Rabu, 03 Oktober 2012

Tugas 1 Softskill "ETIKA PROFESI SECARA UMUM"

TUGAS 1 SOFTSKILL
DHIMAS YOEDHA PRATAMA, 23209297, 4EB14

1.1 Pengertian Etika
Kamus besar bahasa Indonesia terbitan Departemen Pendidikan dan kebudayaan (1988) merumuskan etika dalam tiga arti sebagai berikut:
Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk, tentang hak dan kewajiban moral.
Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.
Nilai mengenai benar salah yang dianut masyarakat.
Dari asal usulnya, etika berasal daari bahasa yunani ”ethos” yang berarti adat istiadat atau kebiasaan yang baik. Bertolak dari kata tersebut, akhirnya etika berkembang menjadi studi tentang kebiasan manusia berdasarkan kesepakatan, menurut ruang dan waktu yang berbeda, yang menggambarkan perangai manusia dalam kehidupan pada umumnya.
Menurut profesor Robert salomon, etika dapat dikelompokkan menjadi dua definisi yaitu:
Etika merupakan karakter individu, dalam hal ini termasuk bahwa orang yang beretika adalah orang yang baik.
Etika merupakan hukun sosial.etika merupakan hukum yang mengatur, mengendalikan serta membatasi periaku manusia.
Pada perkembangannya, etika telah menjadi sebuah studi. Fagothey (1953) mengatakan bahwa etika adalah studi tentang kehndak manusia, yaitu kehendak yang berhubungan dengan keputusan yang benar dan yang salah dalam tindak perbuatannya. Pernyataan tersebut kembali di tegaskan oleh Sumaryono (1995) yang menyatakan bahwa etika merupakan studi tentang kebenaran dan ketidabenaran berdasarkan kodrat manusia yang diwujudkan melalui kehendak manusia dalam perbuatannya.
            Etika profesi merupakan karakteristik suatu profesi yang membedakan suatu profesi dengan profesi lain, yang berfungsi untuk mengatur tingkah laku para anggotanya. Tanpa etika, profesi akuntan tidak akan ada karena fungsi akuntan adalah sebagai penyedia informasi untuk proses pembuatan keputusan bisnis oleh para pelaku bisnis.
Menurut Magnis-Suseno (1985) etika normatif terbagi atas dua yaitu, tolok ukur pertanggungjawaban moral meliputi etika wahyu, etika peraturan, etika situasi dan etika relativisme. Sedangkan etika normatif menuju kebahagiaan meliputi egoisme, pengembangan diri dan utilitarisme. Disamping itu, Hardjoeno (2002) membagi jenis etika atas empat kelompok yaitu, etikanormatif, etika peratusran, etika situasi dan etika relativisme.
Setiap profesi yang memberikan pelayanan jasa pada masyarakat harus memiliki kode etik sebagai seperangkat prinsip–prinsip moral yang mengatur tentang perilaku profesional. Kode etik yaitu norma atau azas yang diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku sehari-hari di masyarakat maupun di tempat kerja.
Kode Etik Akuntan Indonesia, yaitu norma perilaku etika akuntan di Indonesia dalam memenuhi tanggung jawab profesinya yang mengatur hubungan antara akuntan publik dengan klien, antara akuntan publik dengan rekan sejawat dan antara profesi dengan masyarakat. Etika profesi terdiri dari lima dimensi yaitu kepribadian, kecakapan profesional, tangung jawab, pelaksanaan kode etik, penafsiran dan penyempurnaan kode etik.


            Kode etik akuntan Indonesia memuat delapan prinsip etika sebagai berikut : (Mulyadi, 2001: 53)
1. Tanggung JawabProfesi
Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, setiap anggota harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang dilakukannya.
Sebagai profesional, anggota mempunyai peran penting dalam masyarakat. Sejalan dengan peran tersebut, anggota mempunyai tanggung jawab kepada semua pemakai jasa profesional mereka. Anggota juga harus selalu bertanggungjawab untuk bekerja sama dengan sesama anggota untuk mengembangkan profesi akuntansi, memelihara kepercayaan masyarakat dan menjalankan tanggung jawab profesi dalam mengatur dirinya sendiri. Usaha kolektif semua anggota diperlukan untuk memelihara dan meningkatkan tradisi profesi.
2. Kepentingan Publik
Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukan komitmen atas profesionalisme.
Satu ciri utama dari suatu profesi adalah penerimaan tanggung jawab kepada publik. Profesi akuntan memegang peran yang penting di masyarakat, dimana publik dari profesi akuntan yang terdiri dari klien, pemberi kredit, pemerintah, pemberi kerja, pegawai, investor, dunia bisnis dan keuangan, dan pihak lainnya bergantung kepada obyektivitas dan integritas akuntan dalam memelihara berjalannya fungsi bisnis secara tertib. Ketergantungan ini menimbulkan tanggung jawab akuntan terhadap kepentingan publik. Kepentingan publik didefinisikan sebagai kepentingan masyarakat dan institusi yang dilayani anggota secara keseluruhan. Ketergantungan ini menyebabkan sikap dan tingkah laku akuntan dalam menyediakan jasanya mempengaruhi kesejahteraan ekonomi masyarakat dan negara.
Kepentingan utama profesi akuntan adalah untuk membuat pemakai jasa akuntan paham bahwa jasa akuntan dilakukan dengan tingkat prestasi tertinggi sesuai dengan persyaratan etika yang diperlukan untuk mencapai tingkat prestasi tersebut. Dan semua anggota mengikat dirinya untuk menghormati kepercayaan publik. Atas kepercayaan yang diberikan publik kepadanya, anggota harus secara terus menerus menunjukkan dedikasi mereka untuk mencapai profesionalisme yang tinggi.
Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.

3. Integritas
Integritas adalah suatu elemen karakter yang mendasari timbulnya pengakuan profesional. Integritas merupakan kualitas yang melandasi kepercayaan publik dan merupakan patokan (benchmark) bagi anggota dalam menguji keputusan yang diambilnya.
Integritas mengharuskan seorang anggota untuk, antara lain, bersikap jujur dan berterus terang tanpa harus mengorbankan rahasia penerima jasa. Pelayanan dan kepercayaan publik tidak boleh dikalahkan oleh keuntungan pribadi. Integritas dapat menerima kesalahan yang tidak disengaja dan perbedaan pendapat yang jujur, tetapi tidak menerima kecurangan atau peniadaan prinsip.
4. Obyektivitas
Setiap anggota harus menjaga obyektivitasnya dan bebas dari benturan kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya.
Obyektivitasnya adalah suatu kualitas yang memberikan nilai atas jasa yang diberikan anggota. Prinsip obyektivitas mengharuskan anggota bersikap adil, tidak memihak, jujur secara intelektual, tidak berprasangka atau bias, serta bebas dari benturan kepentingan atau dibawah pengaruh pihak lain.
Anggota bekerja dalam berbagai kapasitas yang berbeda dan harus menunjukkan obyektivitas mereka dalam berbagai situasi. Anggota dalam praktek publik memberikan jasa atestasi, perpajakan, serta konsultasi manajemen. Anggota yang lain menyiapkan laporan keuangan sebagai seorang bawahan, melakukan jasa audit internal dan bekerja dalam kapasitas keuangan dan manajemennya di industri, pendidikan, dan pemerintah. Mereka juga mendidik dan melatih orang orang yang ingin masuk kedalam profesi. Apapun jasa dan kapasitasnya, anggota harus melindungi integritas pekerjaannya dan memelihara obyektivitas.
5. Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan berhati-hati, kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan ketrampilan profesional pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh manfaat dari jasa profesional dan teknik yang paling mutakhir.
Hal ini mengandung arti bahwa anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan jasa profesional dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuannya, demi kepentingan pengguna jasa dan konsisten dengan tanggung jawab profesi kepada publik.
Kompetensi diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman. Anggota seharusnya tidak menggambarkan dirinya memiliki keahlian atau pengalaman yang tidak mereka miliki. Kompetensi menunjukkan terdapatnya pencapaian dan pemeliharaan suatu tingkat pemahaman dan pengetahuan yang memungkinkan seorang anggota untuk memberikan jasa dengan kemudahan dan kecerdikan. Dalam hal penugasan profesional melebihi kompetensi anggota atau perusahaan, anggota wajib melakukan konsultasi atau menyerahkan klien kepada pihak lain yang lebih kompeten. Setiap anggota bertanggung jawab untuk menentukan kompetensi masing masing atau menilai apakah pendidikan, pedoman dan pertimbangan yang diperlukan memadai untuk bertanggung jawab yang harus dipenuhinya.


6. Kerahasiaan
Setiap anggota harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional atau hukum untuk mengungkapkannya.
Kepentingan umum dan profesi menuntut bahwa standar profesi yang berhubungan dengan kerahasiaan didefinisikan bahwa terdapat panduan mengenai sifat sifat dan luas kewajiban kerahasiaan serta mengenai berbagai keadaan di mana informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dapat atau perlu diungkapkan.
Anggota mempunyai kewajiban untuk menghormati kerahasiaan informasi tentang klien atau pemberi kerja yang diperoleh melalui jasa profesional yang diberikannya. Kewajiban kerahasiaan berlanjut bahkan setelah hubungan antar anggota dan klien atau pemberi jasa berakhir.
7. Perilaku Profesional
Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.
Kewajiban untuk menjauhi tingkah laku yang dapat mendiskreditkan profesi harus dipenuhi oleh anggota sebagai perwujudan tanggung jawabnya kepada penerima jasa, pihak ketiga, anggota yang lain, staf, pemberi kerja dan masyarakat umum.
8. Standar Teknis
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan standar profesional yang relevan. Sesuai dengan keahliannya dan dengan berhati-hati, anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan obyektivitas.
Standar teknis dan standar professional yang harus ditaati anggota adalah standar yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Internasional Federation of Accountants, badan pengatur, dan pengaturan perundang-undangan yang relevan

http://riscawidya.blogspot.com/2010/11/kode-etik-akuntansi-indonesia.html
www.wikipedia.com, www.e-dukasi.net.com
http://muttaqinhasyim.wordpress.com/2009/06/29/kode-etik-akuntan/

Minggu, 06 Mei 2012

PEP GUARDIOLA


PEP GUARDIOLA

Josep Guardiola i Sala was born in Santpedor on 18 January 1971. After a highly successful career as a Barça player and then gaining promotion as manager of Barça Atlètic, he won the treble in his debut season on the first team bench and has, to date, won thirteen out of a possible sixteen major titles.
Josep Guardiola, one of the most important players in Barcelona's history, took over as first team manager on 17 June 2008 after a brilliant season as coach of Barça Atlètic with whom he won promotion to Second Division B. "I can't promise you silverware, but I can say that we'll keep on battling to the end and you'll be proud of us," he said on the day of his first Gamper Trophy. And he was right.
The fifteenth Catalan manager in the history of the club arrived with the mission to end a two-season long trophy drought. To do that he used the same 4-3-3 system he had experienced as a Barça player and which had brought him success at Barça Atlètic.
Guardiola only understands one way of playing football, which is to attack, keep possession and move the ball around so that the other team has to run after it. That's the way his Barça side plays, as did his Barça Atlètic, and they have had more possession and more shots on goal than virtually every team they have played. He appreciates the talent of his players but he puts hard work and individual sacrifice for the common cause first. He sees football as a squad sport in which he has ultimate responsibility for results and is therefore also the leader of the squad.
Guardiola is a meticulous manager who sees to the tiniest of details. He gets ready for every game with videos of the opposition and never thinks beyond the next match. He is a brilliant motivator who brings the best out of each player in his squad. This philosophy brought him success with the first-team in his first campaign in charge as Barça lifted the Spanish Cup and League and the Champions League in the best season in the club's history, the 2008/09 treble season.
That excellent campaign meant that Guardiola became the third manager after Cruyff and Samitier to pick up the League title after having also won it as a Barça player. He also become the sixth man to win the Champions League as a manager having previously done so as a player, and the first manager to win the treble in the 21st century.
There was no limit to his successes, for the 2009/10 season started with wins in the Spanish and European Supercup, and in December 2009 he led the club to its first ever Clubs World Cup title. That incredible 2009 went down in history as the year of the Six Cups: Copa del Rey, Liga, Champions League, Spanish Supercup, European Supercup and Clubs World Cup. Things didn’t stop there, for in 2009/10 Barcelona retained the Liga, and the year after won the Spanish Supercup, Liga and yet another Champions league. In the current 2011/12 season, Barça have already won the Spanish Supercup, the European Supercup and the second Clubs World Cup. Under Guardiola, Barça have not only been winning, but have been winning in emphatic fashion. In these few years, they have managed to smash more than thirty Spanish, European and World records.
Legendary footballer
Before going into management, Guardiola was a class footballer who played almost all his career at FC Barcelona before going on to spells in Italy, Qatar and Mexico. He was at the Catalan club from when he joined its youth academy in 1984 until he left for Italy in 2001.
Barça honours
Among the trophies he won at Barça are six leagues (1990-91, 91-92, 92-93, 93-94, 97-98 and 98-99), a European Cup (91-92), a Cup Winners' Cup (96-97) and two King's Cups (96-97 and 97-98). During all this time Guardiola was the team's organiser in his traditional number 4 shirt.
Other teams
In Italy's Serie A he made his debut with Brescia in the 2001-02 season, followed by a year with Roma before going back to Lombardy. Later on he went further afield to Al-Ahly in Qatar for two seasons (2003-04 and 2004-05) and Dorados de Sinaloa (Mexico), where he hung up his boots for the final time in 2006.


response :
first time come a lot doubt of him because training a world class team like barcelona. but in first year all changing because barcelona reach for 6 title. a very difficult achievement imitating by other team. game of barcelona very atractive and get best team title in the world. but 2012 becoming his the last year in barcelona because he wish to rest a moment. sorrowful sure fans, but having to remain to respect that decision and remain to compliment to him.come back anytime you want, because door always open everytime for you.



MANCHESTER UNITED

MANCHESTER UNITED

Manchester United's first trophy was the Manchester Cup, which it won as Newton Heath in 1886.[147] In 1908, the club won its first league title, and won the FA Cup for the first time the following year. Manchester United won the most trophies in the 1990s; five league titles, four FA Cups, one League Cup, five Charity Shields (one shared), one UEFA Champions League, one UEFA Cup Winners' Cup, one UEFA Super Cup and one Intercontinental Cup.
The club currently holds the record for most top-division titles (19), the most FA Cups (11), and the most FA Cup Final appearances (18). Manchester United holds the record for the most Premier League titles (12), and was the first English team to win the European Cup in 1968. The club's most recent trophy came in August 2011 with the 2011 FA Community Shield title.
The only major honour that Manchester United has never won is the UEFA Europa League, although the team reached the quarter-finals in 1984–85 and the semi-finals of the competition's precursor tournament, the Inter-Cities Fairs Cup, in 1964–65.

Domestic

League

Cups

European

Worldwide

Doubles and Trebles

Especially short competitions such as the Charity/Community Shield, Intercontinental Cup (now defunct), FIFA Club World Cup or UEFA Super Cup are not generally considered to contribute towards a Double or Treble. 


response :
various title have been reached for make manchester united become one of the successful klub in the world. one matter becoming attention of the world is a moment in 1999 whenn they reach for 3 title which progressively lob the name of club. star players join and progressively make manchester united become team which daunting. the 19th title making manchester become the leader of premier league.